Jejak Megalitikum di Pulau Nias, Sumatera Utara


Bulan Desember, angin barat bertiup kencang dan kami tengah dalam perjalanan feri menuju Pulau Nias. Setelah empat jam meninggalkan Kota Sibolga kapal yang kami tumpangi melintasi Selat Nias dan terus bergoyang diombang-ambing laut di tepi Samudera Hindia yang ganas. Gelombang setinggi tiga meter menghantam lambung kapal, membuat feri oleng dan kami terjaga. Lagu dalam bahasa batak yang diputar sedikit mengalihkan goncangan di kepala kami. Salah satu teman saya terbangun dari tempat tidurnya, posisinya berada disamping kanan saya. Saya menatap wajahnya yang terlihat pucat dan berkeringat. Mungkin karena khawatir dan suhu ruangan membuatnya gerah. Dia orang Sumatera Barat dan rumahnya persis di kaki Gunung Dempo. Saya menduga, ini mungkin pengalaman pertamanya naik kapal laut.


Di penghujung tahun 2014, saya dan beberapa teman ditugaskan ke Pulau Nias. Bukan rombongan kecil, melainkan rombongan besar beranggotakan 24 orang yang terbagi dalam 4 tim. Sebuah lembaga penelitian di Yogyakarta menugaskan kami untuk mengumpulkan data lapangan terkait studi longitudinal pasca tsunami 2004. Bencana maha dashyat yang pernah meluluhlantakkan Propinsi Aceh dan sebagian wilayah di Pulau Nias. Tim saya ditempatkan di kabupaten Nias Selatan.


Pulau Nias merupakan gugusan pulau terbesar di sisi barat Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Tersohor pertama kali karena ombaknya yang tinggi besar sehingga banyak peselancar kelas dunia yang datang menjajalnya. Pulau Nias dapat dicapai melalui jalur laut maupun jalur udara. Jadwal penerbangan dari Bandara Kualanamu Medan ke Bandara Binaka di Gunungsitoli dibuka setiap hari. Sedangkan jalur laut hanya tersedia di pelabuhan kapal feri di Kota Sibolga. Lama waktu pernyeberangan dari Sibolga ke Gunungsitoli kurang lebih 10 jam. Jadwal keberangkatan kapal feri hanya ada dua kali setiap harinya, pagi dan malam.


Kami berangkat ke Pulau Nias menumpang kapal feri bernama KMP Wira. Bentuk dan ukuran kapal besi ini mirip dengan kapal penyeberangan yang berlayar dari Manado ke pulau-pulau kecil di Sulawesi Utara. Fasilitas yang didapat penumpangpun tidak beda, yaitu mendapat alas tidur dan satu kali makan. Standar pelayanan kapal penyeberangan. Kami juga mengangkut empat sepeda motor sewaan yang kami bawa dari Sibolga. Motor sangat diperlukan di Nias, karena sarana transportasi begitu jarang disana, saran dari teman saya.


Setelah semalaman penuh dihajar ombak dan angin barat, kami memasuki perairan Pulau Nias yang relatif terlindung dari gelombang Samudera Hindia. Hampir subuh, kapal yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Angin Gunungsitoli. Suasana pelabuhan tidak terlalu ramai. Kami semua turun dan berkumpul di salah satu sudut pelabuhan. Selesai melakukan briefing singkat yang dipimpin oleh kordinator lapangan (Korlap), kami berpencar dengan tim masing-masing. Ada yang ke Nias Utara dan Kota Gunungsitoli. Tim saya bergerak ke Teluk Dalam di Nias Selatan.

 

Kampung Adat Bawomataluo


Robert von Heine Geldern telah meninggal dunia 52 tahun lalu, namun hasil penelitiannya masih menjadi rujukan kuat bagi peneliti yang menekuni kehidupan jaman pra-sejarah di Indonesia. Arkeolog asal Austria ini, bersama rekan sejawatnya Von Stein Callenfels, menjadi yang pertama yang meletakkan dasar-dasar pra-sejarah di Indonesia.

 

Masa pra-sejarah Nusantara ditandai dengan penemuan batu-batu besar menyerupai bangunan yang diyakini sebagai media pemujaan kepada roh-roh leluhur. Heine Geldern menyebutnya dengan kebudayaan megalitikum atau zaman batu. Peninggalan otentik pada zaman megalitikum masih kita kenali saat ini. Pundan berundak dan arca awal ditemukan pada candi-candi di Jawa, termasuk temuan terkini di situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Sarkofagus ada di Gianyar, Bali. Waruga ada di Airmadidi, Sulawesi Utara. Sedangkan menhir serta dolmen ditemukan di Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Di Sumatera, artefak prasejarah berupa dolmen dapat kita temukan di Pulau Nias, Propinsi Sumatera Utara.


Saat bertugas di Nias, kami menyempatkan diri berkunjung ke kampung adat di Nias Selatan.  Bawomataluo adalah nama sebuah kampung di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Bisa dicapai melalui Kota Gunungsitoli maupun Kota Teluk Dalam. Jarak dari Gunungsitoli ke Teluk Dalam sejauh 90 km, sedangkan jarak dari Teluk Dalam ke Bawomataluo sejauh 19 km. Tidak ada kendaraan umum yang rutenya menuju kesini. Kita harus menyewa kendaraan dari Kota Teluk Dalam atau dari Kota Gunungsitoli. Tergantung di mana titik awal keberangkatan kita.



Hanya satu yang paling diincar pengunjung di Kampung Bawomataluo, yakni melihat langsung atraksi lompat batu atau dalam bahasa Niasnya disebut Hombo Batu. Hombo Batu melambangkan keberanian lelaki Nias. Pada jaman dahulu perebutan wilayah kerap terjadi. Hal tersebut menjadi pemicu peperangan antar satu teritori dengan teritori lainnya. Sebagai benteng pertahanan kampung, dibangunlah dinding batu setinggi lebih dari dua meter di sekeliling wilayah teritori, sehingga penyerbu akan sulit untuk masuk menyerang. Agar dapat menembus masuk, pihak penyerbu harus melakukan latihan melompati susunan pagar batu. Maka dibuatlah Hombo Batu sebagai simulasi sekaligus media latihannya. Semua lelaki dewasa dituntut mampu melompati susunan batu tersebut. Hanya beberapa kampung, terutama di Nias Selatan, yang masih memiliki dan melestarikan simbol keberanian ini, salah satunya kampung Bawomataluo. Saat ini Hombo Batu menjadi atraksi wisata yang menarik bagi pengunjung. Kita cukup membayar 100.000 agar dapat melihat atraksi Hombo Batu. Ini atraksi unik yang tidak ada di tempat lain.


Saat di Kampung Bawomataluo, kami berkesempatan menyaksikan atraksi Hombo Batu. Aksi melompati batu setinggi 2,15 meter ini diperagakan oleh seorang pemuda Nias yang gagah dan tegap. Kami menyaksikan pemuda ini mengambil ancang-ancang sejauh 50 meter dari susunan batu yang akan diloncati. Dia terlihat siap dan penuh percaya diri, sesaat sebelum bersiap. Dengan kekuatan penuh dia berlari menuju dinding batu dan bersiap melompat. Ada seonggok batu di bawah susunan batu yang dia gunakan sebagai pijakan atau pelontar. Dengan bantuan batu pijakan, pemuda itu melesat cepat ke udara. Salah satu kakinya menjulur ke depan seolah melangkahi susunan batu dan posisi tubuh miring ke belakang. Dengan sigap dia melompat melewati dinding batu dan mendarat dengan anggun di seberangnya.


Daya pikat lain yang dimiliki kampung ini adalah arsitektur bangunan rumah panggung dan temuan artefak jaman pra-sejarah seperti dolmen atau meja batu dan menhir. Rumah panggung berusia ratusan tahun menjadi perhatian pengunjung karena struktur bangunannya yang rumit, menggunakan tiang kayu ukuran besar sebagai penyangga. Tiang-tiang penyangga itu ada yang dipasang vertikal, ada pula yang dipasang diagonal. Konsep bangunan ini oleh para peneliti dari ITB dan UI dipercaya dapat menahan guncangan gempa. Pada dinding luar bangunan kayu terdapat delapan gambar ornamen daun. Posisinya melingkar menyerupai kelopak bunga, berwarna biru langit dan kuning. Terpasang juga ornamen kayu berbentuk tiga pasang kepala naga yang menghadap ke utara.

 


Bangunan ini disebut Omo Hada, rumah lawas milik Raja Bawotamaluo yang sekarang didiami oleh keturunannya. Di halaman depan rumah tersusun rapih beberapa benda jaman pra-sejarah seperti dolmen dan batu menhir. Beragam bentuk dan ukurannya. Di bagian dalam Omo Hada masih tersimpan satu kursi raja yang terbuat dari kayu. Pengunjung diperbolehkan mendudukinya sambil berswafoto.


Cerita legenda tentang keberanian orang Nias jaman megalitik dapat kita peroleh dari pemandu-pemandu lokal yang umumnya berusia remaja. Para pemandu lokal begitu lugas bercerita dan begitu senang mengajak pengunjung untuk berkeliling kampung. Mereka diasuh oleh salah satu organisasi yang mengajarkan bagaimana membuat serta menjual souvenir khas kampung Bawomataluo, organisasi itu bernama Gaule Ana’a.

 

Kampung Adat Hilimondregeraya


Kampung adat Hilimondregeraya berjarak sejauh 7,5 km di sebelah selatan Kota Teluk Dalam. Secara administratif masuk di Kecamatan Ono Lalu. Kampung adat yang diklaim sebagai permukiman tertua di Nias Selatan ini memiliki abanyak artefak jaman megalitikum. Di tengah kampung, pernah berdiri Omo Sebua yang dibangun tahun 1860. Omo Sebua tersebut memikat hati seorang dokter asal Denmark bernama A.G. Moller yang menikahi putri Raja Hilimondregeraya. Pada tahun 1927, dokter itu membeli dan mengangkut Omo Sabua ke negara asalnya. Potongan bangunan diboyong dengan mengajak serta beberapa orang kampung yang tahu memasangnya kembali di sana.



Tahun 2012, Tirto Utomo Foundation, sebuah lembaga non-profit yang berperan besar dalam melestarikan bangunan tradisional di Indonesia, menginisiasi pembangunan replika Omo menyerupai model dan ukuran aslinya. Replika Omo Sebua yang berdiri di Kampung Hilimondregeraya menyerupai arsitektur Omo Hada di desa Bawomataluo. Dari ukuran tiang penyangganya, ornamen dinding luar hingga hiasan kepala naga. Replika tersebut dibangun di atas lahan berukuran 8,5 x 14 meter. Letaknya tidak begitu jauh dari lokasi rumah aslinya.


Pada halaman depan lokasi Omo Sebua yang terdahulu, masih dapat dijumpai beberapa motif menhir yang vertikal dan horizontal. Menhir vertikal bermotif manusia dan menhir horizontal bermotif hewan buaya (ewali sawolo). Ada juga meja batu di salah satu sudut halaman. Sedangkan di halaman depan Omo nifolasara terdapat altar bujursangkar berukuran 15x15 meter persegi. Lantai altar dilapisi batu megalit. Kursi batu berada di sisi dalam sebelah barat altar dengan posisi menghadap ke rumah replika.



Altar biasanya digunakan untuk acara tertentu saja, seperti pertemuan adat atau musyawarah adat. Tak jauh dari sisi luar altar terdapat Hombo Batu sebagai simbol kebudayaan. Arena Lompat Batu ini tidak untuk dipertontonkan kepada pengunjung. Lompat Batu di Kampung Bawomatulao dilombakan setahun sekali dan wajib diikuti oleh pemuda Kampung Hilimondregeraya yang berusia dewasa.


Keunikan budaya jaman megalitikum di pulau Nias begitu mengagumkan. Siapapun yang berkunjung kesini pasti akan takjub dengan pengalaman yang dirasakannya, sama seperti saya. Pembelajaran yang saya peroleh selama berada di pulau Nias adalah mencintai Indonesia dapat diwujudkan dengan menjaga serta melestarikan peninggalan kebudayaan pendahulunya. Karena itu adalah identitas bangsa.







Situs Geowisata Bukit Karst di Maros, Sulawesi Selatan


KABUPATEN Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Makassar. Jarak dari Makassar ke Maros berkisar 30 kilometer. Kabupaten Maros merupakan salah satu dari tiga daerah di tiga provinsi tujuan pekerjaan saya.

Kali ini saya melakukan survei ditemani dua orang perempuan, Fatiha dan Puspita Anggraeni, masuk keluar sekolah dasar dan madrasah pada daerah tujuan penelitian.

Di Kabupaten Maros kami mengambil data salah satu madrasah. Di sana kami ditawari jalan-jalan oleh beberapa guru. Mereka menyebut tiga obyek wisata primadona di wilayahnya, yaitu Rammang-Rammang, Taman Pra-sejarah Leang, dan Bantimurung.

Kami bertiga dengan senang hati mengiyakan ajakan mereka. Kami bersepakat dengan guru-guru itu bertemu di alun-alun esok pagi. Pihak sekolah berbaik hati menyediakan mobil untuk mengantar kami.

Kawasan Bukit Karst Rammang-Rammang

Maret 2019, alun-alun Kota Maros tidak terlalu ramai pagi itu. Setelah sempat dihantam musibah banjir besar pada awal tahun, Kota ini tampak mulai menggeliat kembali. Jam analog menunjukkan pukul 08:30, saat sebuah kendaraan yang menjemput kami tiba. Di belakangnya menyusul satu mobil lagi. Mobil pertama disediakan untuk kami bertiga plus seorang supir dan mobil kedua berisi empat guru dengan anak-anak mereka. Setelah berbelanja makanan dan minuman ringan, mobil melaju kearah utara menuju Desa Salenrang, tempat di mana bukit karst Rammang-Rammang berada.

Kawasan batuan kapur yang berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah atau karst. Ada dua bukit karst terluas di dunia, pertama di Shilin Yi, Provinsi Yunnan, China dan kedua berada di Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Rammang-rammang kini menjadi primadona wisata kabupaten Maros. Berjarak sekitar 46 km dari kota Makassar dan 19 km dari kota Maros. Obyek wisata ini dikenal dengan gugusan bukit karst yang menjulang dan puluhan goa alami. Rangkaian bukit kapur nan eksotis memikat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Akses jalan menuju lokasi sudah bagus. Beraspal beton dan ruas jalan dapat dilewati oleh dua mobil yang berlawanan arah. Saat melintasinya, kita dapat melihat hamparan padi yang menguning dan ada juga yang masih terlihat hijau. Di belakang area persawahan, sisi kanan jalan, dari kejauhan tampak puluhan batu besar.

Bebatuan tersebut seakan-akan mencuat keluar dari perut bumi, berwarna hitam keabu-abuan, sangat kontras dengan hamparan hijau dan kuning tanaman padi. Panorama ini mengundang decak kagum pertama sebelum memasuki perbukitan karst Rammang-Rammang di Kampung Berua.

Kendaraan kami berjalan dengan kecepatan sedang setelah melewati simpang jalan desa Salenrang. Semakin masuk lebih ke dalam lagi, kita akan disuguhkan pemandangan puncak runcing bukit karst. Kendaraan berhenti di sebuah jembatan beton. Jembatan ini sebagai penanda batas masuk lokasi wisata.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami mendatangi pos penjaga untuk memesan perahu dan membayar tiket masuk juga biaya parkir kendaraan. Harga tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang dan biaya parkir kendaraan roda empat sebesar Rp 10.000. Ongkos parkir roda dua setengahnya.

Pos jaga adalah sebuah rumah kayu, pada dindingnya terpasang informasi tentang Geowisata Kampoeng Karst Rammang-Rammang, Peta Topografi Karst dan beberapa tulisan dalam tiga bahasa. Ada kalimat yang; menarik di dalam bangunan ini, tertulis “Rampe Golla Na Kurampeki Kaluku”, di bawah kalimat itu tertulis terjemahan bahasa indonesia, “Ceritakan diriku semanis gula akan kuingat dirimu segurih kelapa”.

 


Berperahu ke Kampung Barua

Pada papan informasi tergambar letak beberapa situs, gua, dan spot-spot menarik, termasuk juga mencantumkan letak posisi tiga dermaga. Mengetahui posisi dermaga menjadi utama karena semua situs wisata di Rammang-Rammang hanya bisa dilalui dengan menyewa perahu. Bila ingin mengunjungi Kampung Berua, Anda akan diantarkan ke dermaga tiga. Perahu yang masuk akan bersandar di dermaga, menunggu untuk mengantarkan Anda kembali pulang.

Saking banyaknya obyek yang menarik sehingga kami berembug untuk menentukan situs mana yang akan kami kunjungi. Beberapa tempat menarik yang dapat pengunjung datangi di kawasan Rammang-Rammang antara lain, Telaga Bidadari, Kampung Berua, Gua Telapak Tangan, Gua Bulu’ Barakka, Gua Pasaung, dan Taman Hutan Batu Kapur. Hasil rembuknya, kami memilih Kampung Berua. Dengan pertimbangan kalau di sana kita bisa melihat lebih dari satu situs dan beristirahat di warung warga desa setempat.

Pihak pengelola Geowisata menyediakan dua macam ukuran perahu, berdasarkan kapasitas jumlah penumpang. Semua perahu di cat dengan warna-warna cerah dan memiliki satu mesin tempel di buritan. Kami menyewa satu perahu yang berukuran agak besar agar dapat memuat tujuh orang dewasa dan dua orang anak.

Pengemudi membagi posisi duduk penumpang agar perahu seimbang dan berjalan mulus. Dengan kecepatan sedang, perahu mulai menyusuri Sungai Pute, meninggalkan gulungan kecil di belakang perahu kami. Air Sungai Pute begitu tenang dan jernih.

Pada belokan pertama mata kami disuguhkan dengan rerimbunan pohon nipah dan akar pohon bakau air payau. Di belokan selanjutnya mulai tampak dinding tebing karst yang menjulang. Pemandangan itu memaksa kami mendongak guna melihatnya. Tampak pula sebuah rumah penduduk, dibangun persis di tepi aliran sungai. Ada dermaga kecil di dekatnya.

Sebuah papan petunjuk menuliskan “Telaga Bidadari”. Perahu kami hanya melewati saja. Kemudian, perahu mulai mengurangi kecepatannya. Badan sungai mulai mengecil dan tampak di hadapan kami semacam lorong gua yang mungkin hanya bisa dilewati satu perahu saja. Semakin mendekati ke liang sana, perahu semakin berjalan pelan hingga sampai di mulut lorong gua. Perahu memasuki lorong dengan perlahan.

Masing-masing dari kami terlihat menahan nafas. Bila melihat ke bawah akan tampak bagian dasar sungai yang dangkal. Suasana di dalam lorong itu begitu dingin dan lembab. Sisi kanan dan kiri merupakan bebatuan menyerupai batu gamping. Air menetes dari atasnya. Lorong ini memiliki panjang kurang lebih 80 meter. Di bagian ujung satunya adalah dermaga tiga Kampung Berua.



Padang Ammarung

Perahu kami berhenti di dermaga ini. Satu persatu kami keluar dari perahu, memandang takjub bukit-bukit karst yang berdiri mengelilingi sebuah permukiman, bagai dinding alam. Inilah Kampung Berua. Kampung paling ujung dari Desa Salenrang. Rammang-Rammang hanyalah penamaan untuk dusunnya.

Tidak banyak rumah yang tampak. Lahan yang dimiliki sebagian besar berisi air bak tambak atau telaga yang dangkal. Rumah panggung berdiri di atasnya. Kami melangkah di atas pematang mengikuti papan petunjuk arah yang terpasang di setiap persimpangan.

Di tengah kampung ketika menoleh ke selatan kita akan melihat sebuah mulut gua yang besar tempat kelelawar tinggal. Sebelah utara kampung terdapat Gua Telapak Tangan. Kami tidak sedang menuju kepada dua tempat tersebut. Tujuan kami hanyalah Padang Ammarung.

Terdapat poster yang dilapisi mika transparan setinggi 2 meter. Di dalam poster itu tertulis deskripsi tentang Padang Ammarung. Saya mengutipnya demikian, Padang Ammarung ini merupakan sebuah padang batu dengan sejarah panjang, meninggalkan benteng-benteng geologi yang unik, susunan-susunan batu yang dilukis oleh air dengan mata air yang membelah. Dari atas padang Ammarung akan nampak lanskap Kampung Berua secara menyeluruh di bawah kaki tebing-tebing karst yang perkasa.

Nama Padang Ammarung sendiri diambil dari gemuruh air yang membelah Padang Ammarung di musim penghujan, “ammarung” berarti bunyi. Bahkan menurut cerita rakyat beberapa tahun silam gemuruh air ini sendiri menerjang dari dalam celah batu yang membentuk sungai-sungai kecil peninggalan jaman Belanda.

Setelah melewati jembatan kecil dan jalan yang sedikit mendaki, tibalah kami di Padang Ammarung. Warung-warung yang dikelola warga kampung senantiasa menyambut kedatangan kami. Kami menuju salah satu warung terdekat, memesan minuman hangat dan pisang goreng. Udara sejuk yang membekap mendorong kami untuk lekas menyeruput kopi dan menyantap pisang goreng yang tersaji.

Di sini kami beristirahat sambil duduk lesehan. Satu jam kemudian, kami bergegas berdiri karena melihat langit yang begitu cepat berubah berwarna keabuan pertanda akan turun hujan. Kami tidak mau pulang dengan pakaian basah, maka kami pun segera membayar makanan dan minuman serta pamit kepada pemilik warung. Geowisata ini memberi kami pengalaman personal menikmati monumen alam yang dibentuk oleh ruang dan waktu jutaan tahun lamanya.

Alam dan Budaya di Tanah Para Raja




Toraja adalah salah satu destinasi wisata terbaik yang wajib dikunjungi di Indonesia. Di sinilah tempat di mana bentang alam yang indah berpadu dengan kultur budaya masyarakat yang kaya serta peninggalan sejarah nan magis dan mistis. Sangat disayangkan kalau kamu kebetulan sedang bertugas di Toraja, tetapi hanya dalam waktu yang singkat. Apalagi kalau tidak menyempatkan diri berkunjung ke obyek wisata yang ada di sana, minimal satu saja. Wah, pasti penyesalan yang akan kamu dapat. Bagaimana jika teman-teman di kantor bertanya, kamu akan menjawab apa nantinya? “Gimana Toraja? Sempat singgah ke Londa? Sempat ke Kete Kesu?” Kamu tidak bisa menjawab, bukan?

Saya bersama lima teman menghadapi situasi seperti itu waktu melakukan survey MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Kebetulan, salah satu di antara teman kami adalah asli Toraja. Saat akan pindah wilayah pencacahan, rute kami melewati Tana Toraja. Teman yang orang Toraja menawarkan singgah ke rumah neneknya, sekalian mengambil libur di sana. Kami menerima tawarannya dan mengambil libur selama tiga hari saja karena jatah libur memang hanya tiga hari. Dalam tulisan ini, saya akan bercerita sedikit tentang sejarah Toraja dan dua tempat wisata terkenal yang kami kunjungi, yaitu Londa dan Kete Kesu.

Tana Toraja sebelumnya merupakan satu kabupaten yang sebagian besar wilayahnya didiami oleh suku Toraja. Toraja kini telah dimekarkan menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja. Rantepao adalah ibukota kabupaten Toraja Utara, sedangkan Makale ibukota kabupaten Tana Toraja. Kedua wilayah berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, Kabupaten Luwu, dan Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Asal-usul Tana Toraja

Tentu kamu sudah mengetahui tentang Tana Toraja, baik itu lewat majalah maupun televisi, serta mungkin cerita dari teman-teman kamu. Bagi saya, yang menjadi daya Tarik Tana Toraja adalah budaya tradisional dan udaranya yang begitu sejuk terasa. Untuk datang ke Toraja Anda bisa menggunakan bus atau pesawat terbang, pilihannya tentu saja terserah Anda. Ingin cepat yah naik pesawat, bila ingin berlama dan menikmati pemandangan alam yang tersaji sambil bersandar pada kursi duduk yang begitu empuk selama enam jam, pergunakanlah bus. Bus tujuan Toraja bukan sembarang bus. Bus di sana mirip dengan bus-bus wisata di Eropa.

Menurut teman saya, Toraja berasal dari kata “Tau Raya”, yang berarti orang besar, atau raja. Kata “Tana” semakna dengan kata tanah dalam bahasa Indonesia. Sampai hari ini pun, nama ini masih ditafsirkan sebagai “Tanah Para Raja” atau “Tanah Keturunan Kerajaan”. Teman saya juga bercerita kepada saya kalau kepercayaan itu berasal dari legenda atau mitos mengenai nenek moyang Toraja yang turun dari surga dengan menggunakan "Tangga dari Langit."

Namanya mitos atau legenda, boleh percaya boleh tidak. Kalau kita telusuri secara ilmiah, ada sebuah penelitian antropologi tentang asal usul orang Toraja. Hasil riset itu menyatakan bahwa populasi Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara suatu masyarakat adat dari Sulawesi Selatan dengan pendatang yang tiba dari Teluk Tongkin, Cina. Dimulai dengan mendaratnya imigran Indo-Cina di daerah pantai Enrekang, kemudian mereka menetap di sana. Wow, menarik untuk ditelusuri nih. 

Mungkin karena itu, nama Toraja katanya berasal dari suku Bugis Sidendereng. Mereka disebut orang-orang dari daerah “Ria ja”, yang diartikan orang-orang yang tinggal di negara tinggi atau pegunungan. Sebutan lain untuk Tana Toraja disematkan oleh suku Luwu yang berada di tenggara Sulawesi, mereka menyebutnya dengan “Ria jang”, atau orang-orang yang tinggal di barat. Akhirnya, penamaan yang diterima hingga sekarang adalah Toraja. 



Gua Tengkorak di Londa

Nah, setelah kamu tahu bagaimana sejarahnya orang Toraja dan nama Toraja, saya akan ulas secara ringkas mengenai obyek wisata Londa dan Kete Kesu.

Obyek wisata Londa berada di Desa Sandan Uai, secara administratif termasuk dalam wilayah kecamatan Sanggalai, sekitar tujuh kilometer dari Rantepao atau pusat kota. Di Londa, kamu dapat melihat kuburan kuno besar yang terbentuk secara alami. Di situs ini terdapat gua tua tempat di mana puluhan orang dikuburkan di dalamnya. Di dalam gua ini berserak ratusan tulang yang berasal dari daerah Tallulolo. Udara di dalam gua terasa sejuk dan kita bernafas seperti biasa saja. Saya sarankan, bila masuk kedalam gua ini hendaknya menggunakan jasa pemandu dan menyewa petromaks sebagai penerang. Kami berlima patungan untuk bisa menyewa pemandu dan petromaks. Karena biaya sewanya lumayan besar bagi kocek kami kalau bayar sendiri-sendiri. 

Di Londa, kamu juga dapat melihat kerbau gemuk besar terikat dengan warna kulit albino, biasa disebut tedong. Konon kerbau berwarna seperti itu, paling mahal harganya. Tedong adalah sebutan kerbau dalam bahasa Toraja. Orang Toraja mengenal berbagai jenis kerbau berdasarkan corak dan warna kulitnya. Kerbau putih dengan belang hitam disebut tedong saleko. Kalau kerbau hitam dengan belang putih disebut tedong bonga. Kerbau berwarna putih polos tanpa belang disebut tedong bulan. Sementara kerbau berwarna abu-abu seperti kebo bule, disebut tedong sambaoyang.

Rumah Tongkonan di Kete Kesu

Setelah puas foto-foto kuburan Gua Londa, kami melanjutkan kunjungan ke Kete Kesu. Lokasi wisata budaya dengan rumah adat yang ikonik ini menjadi tempat wisata paling popular di Tana Toraja. Pendapat itu telah saya buktikan bersama lima teman saya. Di obyek wisata ini, kamu akan terpesona melihat rumah Tongkonan dengan lumbung padinya. Hanya itu saja? Tentu tidak. Bila kamu masuki lebih dalam lagi, kamu akan menemukan batu megalit besar yang berada di tengah sawah. Kamu juga akan menemukan sebuah kuburan bangsawan di antara tebing dan tau-tau. 



Berbicara mengenai rumah Tongkonan, rumah adat ini mempunyai beberapa jenis. Keseluruhan bangunannya menggunakan kayu uru, Elmerrillia ovalis dandy sebutan latinnya. Kayu yang tahan lama dan sangat mahal harganya.  Kayu ini mudah di pahat atau diukir. Bila diperhatikan, rumah Tongkonan selalu dihiasi dengan ukiran gambar bermotif ayam jantan dan motif bersitan sinar matahari, menyerupai simbol ‘Aufklarung’, yakni suatu pergerakan intelektual abad ke-18 di Eropa Barat. Motif ayam jantan disebut pa’manuk londong yang mempunyai makna filosofis sebagai selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan. Sedangkan motif berkas sinar matahari disebut pa’barre alo yang bermakna filosofis sebagai energi untuk menegakkan keadilan. Menurut teman saya, ada beberapa macam jenis dan fungsi rumah tongkonan, seperti Tongkonan Pa’rapuan yang hanya ditinggali oleh satu keluarga dalam satu marga dan Tongkonan Kaparengngesan diperuntukkan kepada ketua adat saja. 



Selain motif, susunan vertikal tanduk kerbau yang terpasang pada tonggak kayu juga menjadi pemikat Tongkonan yang jumlahnya belasan. Belum saya temukan bacaan yang menjelaskan mengapa hewan kerbau bisa berada di Tana Toraja, sebuah wilayah yang terletak di dataran tinggi. Sependek pengetahuan saya, kerbau juga banyak dipelihara oleh masyarakat pinggiran Jakarta di tahun 80-an karena masih ada area persawahan. Pastinya, bagi orang Toraja kerbau menjadi penanda strata ekonomi dan kelas sosial. Daging hewan ini disajikan secara utama pada saat acara kematian. Konon, jumlah tanduk kerbau yang dipajang menunjukkan berapa kali pemilik rumah menggelar pesta adat dan mengindikasikan status sosial di masyarakat.

Ke'te Kesu juga terkenal karena patung-patungnya. Pematung di tempat ini begitu brilian selain terampil membuat kerajinan tangan seperti souvenir. Di tempat inilah kamu dapat membeli souvenir dengan harga yang terjangkau dan bisa ditawar pula. Tak jauh dari tempat parkir, Anda dapat singgah pada sebuah bangunan yang tertutup papan, di situ dapat anda intip bagaimana proses pembuatan peti kayu untuk jenasah orang Toraja.

Lalu tidakkah kamu bisa meluangkan waktu sehari saja untuk berwisata sejarah sekaligus mempelajari ragam budaya Indonesia saat sedang bertugas di Toraja?*


Pantai Meleura: Miniatur Raja Ampat di Sulawesi Tenggara



Siapa yang tidak mengenal kepulauan Raja Ampat? Gugusan pulau nan luas di Papua Barat yang begitu kaya dengan kehidupan biota lautnya dan menjadi tempat favorit para pelancong mancanegara. Warna hijau tosca air lautnya yang memikat selalu menjadi narasi kagum para pencinta bahari.

Namun, adakah dari kalian yang mengenal Pantai Meleura? Sebuah pantai di Sulawesi Tenggara, yang memiliki gugusan pulau karang dengan berbagai ukuran. Dari yang berukuran kecil hingga sedang. Bayangkan sebuah bongkahan saja. Pun Air lautnya berwarna hijau tosca. Bening hingga menembus dasar lautnya.

Tempat wisata bahari ini menjadi kebanggaan kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Setelah Taman Nasional Wakatobi yang begitu gemilang dengan spot divingnya, menyusul kini Pantai Meleura yang banyak pelancong menyebutnya sebagai miniatur kepulauan raja ampat. Tonton video diatas untuk lebih yakin.

Bila ingin memangkas biaya transportasi untuk menuju ke tempat wisata ini, Anda dapat memilih kapal feri ASDP dengan ongkos tiga puluh lima ribu rupiah, dari Pelabuhan Torobulu ke Pelabuhan Tampo. Harga tiket kapal feri pemerintah berbeda jauh dengan kapal feri swasta )Ekspres Bahari) yang seharga dua ratus lima puluh ribu rupiah, dari pelabuhan Kendari ke pelabuhan Raha.

Mungkin orang lebih mengenal Pulau Buton daripada pulau ini. Pulau Buton juga merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara, memiliki pelabuhan laut besar yang menjadi persinggahan kapal Pelni dan terkenal karena memiliki peninggalan sejarah Benteng Keraton, yang konon tersohor sebagai benteng terbesar di dunia.

Desa Sade, kampung tradisional Sasak di Lombok Tengah



Desa Sade berada di Kecamatan Pujut, yang terletak di wilayah bagian selatan Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini merupakan sebuah perkampungan suku Sasak asli yang masih mempertahankan dan menjaga keaslian kebudayaan Sasak tua, sejak zaman pemerintahan Kerajaan Pejanggik di Praya, kabupaten Lombok Tengah.

Masyarakat yang tinggal di Desa Sade ini merupakan suku Sasak asli Lombok, mereka masih memegang teguh sistim sosial Sasak tua dalam kehidupan sehari-harinya. Jika berkunjung ke desa ini, Anda akan disambut dengan keramahan pemandu setempat. Gerbang masuk desa bercorak arsitektur rumah adat khas Sasak. Masuk lebih ke dalam, Anda akan merasa lebih takjub lagi. Deretan bangunan rumah tradisional Sasak tertata rapih dan bersih dengan jalan setapak membelahnya.

Bangunan tradisional Sasak di perkampungan Desa Sade Lombok ini, terdiri dari dua jenis yang disebut dengan Bale Tani dan Lumbung. Bale Tani adalah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat tinggal, dan Lumbung adalah bangunan yang biasa digunakan sebagai tempat menyimpan padi hasil panen atau untuk menyimpan segala kebutuhan.

Rumah adat suku sasak yang disebut Bale Tani, terbuat dari kayu dengan dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan daun alang-alang kering. Lantai dari Bale Tani ini adalah campuran tanah, getah pohon dan abu jerami yang kemudian diolesi dengan kotoran kerbau. Bale Tani terbagi menjadi dua bagian yaitu Bale Dalam dan Bale Luar, ruangan Bale Dalam biasanya diperuntukkan untuk anggota keluarga wanita, yang sekaligus merangkap sebagai dapur. Sedangkan ruangan Bale Luar diperuntukkan untuk anggota keluarga lainnya, dan juga berfungsi sebagai ruang tamu.

Desa Sade menjadi salah satu tempat favorit bagi wisatawan, karena di tempat ini, para pengunjung dapat belajar menenun kain khas Lombok. Selain itu, berbagai souvenir khas Lombok juga tersedia dengan berbagai ragam model dan warna.