Jejak Megalitikum di Pulau Nias, Sumatera Utara


Bulan Desember, angin barat bertiup kencang dan kami tengah dalam perjalanan feri menuju Pulau Nias. Setelah empat jam meninggalkan Kota Sibolga kapal yang kami tumpangi melintasi Selat Nias dan terus bergoyang diombang-ambing laut di tepi Samudera Hindia yang ganas. Gelombang setinggi tiga meter menghantam lambung kapal, membuat feri oleng dan kami terjaga. Lagu dalam bahasa batak yang diputar sedikit mengalihkan goncangan di kepala kami. Salah satu teman saya terbangun dari tempat tidurnya, posisinya berada disamping kanan saya. Saya menatap wajahnya yang terlihat pucat dan berkeringat. Mungkin karena khawatir dan suhu ruangan membuatnya gerah. Dia orang Sumatera Barat dan rumahnya persis di kaki Gunung Dempo. Saya menduga, ini mungkin pengalaman pertamanya naik kapal laut.


Di penghujung tahun 2014, saya dan beberapa teman ditugaskan ke Pulau Nias. Bukan rombongan kecil, melainkan rombongan besar beranggotakan 24 orang yang terbagi dalam 4 tim. Sebuah lembaga penelitian di Yogyakarta menugaskan kami untuk mengumpulkan data lapangan terkait studi longitudinal pasca tsunami 2004. Bencana maha dashyat yang pernah meluluhlantakkan Propinsi Aceh dan sebagian wilayah di Pulau Nias. Tim saya ditempatkan di kabupaten Nias Selatan.


Pulau Nias merupakan gugusan pulau terbesar di sisi barat Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Tersohor pertama kali karena ombaknya yang tinggi besar sehingga banyak peselancar kelas dunia yang datang menjajalnya. Pulau Nias dapat dicapai melalui jalur laut maupun jalur udara. Jadwal penerbangan dari Bandara Kualanamu Medan ke Bandara Binaka di Gunungsitoli dibuka setiap hari. Sedangkan jalur laut hanya tersedia di pelabuhan kapal feri di Kota Sibolga. Lama waktu pernyeberangan dari Sibolga ke Gunungsitoli kurang lebih 10 jam. Jadwal keberangkatan kapal feri hanya ada dua kali setiap harinya, pagi dan malam.


Kami berangkat ke Pulau Nias menumpang kapal feri bernama KMP Wira. Bentuk dan ukuran kapal besi ini mirip dengan kapal penyeberangan yang berlayar dari Manado ke pulau-pulau kecil di Sulawesi Utara. Fasilitas yang didapat penumpangpun tidak beda, yaitu mendapat alas tidur dan satu kali makan. Standar pelayanan kapal penyeberangan. Kami juga mengangkut empat sepeda motor sewaan yang kami bawa dari Sibolga. Motor sangat diperlukan di Nias, karena sarana transportasi begitu jarang disana, saran dari teman saya.


Setelah semalaman penuh dihajar ombak dan angin barat, kami memasuki perairan Pulau Nias yang relatif terlindung dari gelombang Samudera Hindia. Hampir subuh, kapal yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Angin Gunungsitoli. Suasana pelabuhan tidak terlalu ramai. Kami semua turun dan berkumpul di salah satu sudut pelabuhan. Selesai melakukan briefing singkat yang dipimpin oleh kordinator lapangan (Korlap), kami berpencar dengan tim masing-masing. Ada yang ke Nias Utara dan Kota Gunungsitoli. Tim saya bergerak ke Teluk Dalam di Nias Selatan.

 

Kampung Adat Bawomataluo


Robert von Heine Geldern telah meninggal dunia 52 tahun lalu, namun hasil penelitiannya masih menjadi rujukan kuat bagi peneliti yang menekuni kehidupan jaman pra-sejarah di Indonesia. Arkeolog asal Austria ini, bersama rekan sejawatnya Von Stein Callenfels, menjadi yang pertama yang meletakkan dasar-dasar pra-sejarah di Indonesia.

 

Masa pra-sejarah Nusantara ditandai dengan penemuan batu-batu besar menyerupai bangunan yang diyakini sebagai media pemujaan kepada roh-roh leluhur. Heine Geldern menyebutnya dengan kebudayaan megalitikum atau zaman batu. Peninggalan otentik pada zaman megalitikum masih kita kenali saat ini. Pundan berundak dan arca awal ditemukan pada candi-candi di Jawa, termasuk temuan terkini di situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Sarkofagus ada di Gianyar, Bali. Waruga ada di Airmadidi, Sulawesi Utara. Sedangkan menhir serta dolmen ditemukan di Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Di Sumatera, artefak prasejarah berupa dolmen dapat kita temukan di Pulau Nias, Propinsi Sumatera Utara.


Saat bertugas di Nias, kami menyempatkan diri berkunjung ke kampung adat di Nias Selatan.  Bawomataluo adalah nama sebuah kampung di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan. Bisa dicapai melalui Kota Gunungsitoli maupun Kota Teluk Dalam. Jarak dari Gunungsitoli ke Teluk Dalam sejauh 90 km, sedangkan jarak dari Teluk Dalam ke Bawomataluo sejauh 19 km. Tidak ada kendaraan umum yang rutenya menuju kesini. Kita harus menyewa kendaraan dari Kota Teluk Dalam atau dari Kota Gunungsitoli. Tergantung di mana titik awal keberangkatan kita.



Hanya satu yang paling diincar pengunjung di Kampung Bawomataluo, yakni melihat langsung atraksi lompat batu atau dalam bahasa Niasnya disebut Hombo Batu. Hombo Batu melambangkan keberanian lelaki Nias. Pada jaman dahulu perebutan wilayah kerap terjadi. Hal tersebut menjadi pemicu peperangan antar satu teritori dengan teritori lainnya. Sebagai benteng pertahanan kampung, dibangunlah dinding batu setinggi lebih dari dua meter di sekeliling wilayah teritori, sehingga penyerbu akan sulit untuk masuk menyerang. Agar dapat menembus masuk, pihak penyerbu harus melakukan latihan melompati susunan pagar batu. Maka dibuatlah Hombo Batu sebagai simulasi sekaligus media latihannya. Semua lelaki dewasa dituntut mampu melompati susunan batu tersebut. Hanya beberapa kampung, terutama di Nias Selatan, yang masih memiliki dan melestarikan simbol keberanian ini, salah satunya kampung Bawomataluo. Saat ini Hombo Batu menjadi atraksi wisata yang menarik bagi pengunjung. Kita cukup membayar 100.000 agar dapat melihat atraksi Hombo Batu. Ini atraksi unik yang tidak ada di tempat lain.


Saat di Kampung Bawomataluo, kami berkesempatan menyaksikan atraksi Hombo Batu. Aksi melompati batu setinggi 2,15 meter ini diperagakan oleh seorang pemuda Nias yang gagah dan tegap. Kami menyaksikan pemuda ini mengambil ancang-ancang sejauh 50 meter dari susunan batu yang akan diloncati. Dia terlihat siap dan penuh percaya diri, sesaat sebelum bersiap. Dengan kekuatan penuh dia berlari menuju dinding batu dan bersiap melompat. Ada seonggok batu di bawah susunan batu yang dia gunakan sebagai pijakan atau pelontar. Dengan bantuan batu pijakan, pemuda itu melesat cepat ke udara. Salah satu kakinya menjulur ke depan seolah melangkahi susunan batu dan posisi tubuh miring ke belakang. Dengan sigap dia melompat melewati dinding batu dan mendarat dengan anggun di seberangnya.


Daya pikat lain yang dimiliki kampung ini adalah arsitektur bangunan rumah panggung dan temuan artefak jaman pra-sejarah seperti dolmen atau meja batu dan menhir. Rumah panggung berusia ratusan tahun menjadi perhatian pengunjung karena struktur bangunannya yang rumit, menggunakan tiang kayu ukuran besar sebagai penyangga. Tiang-tiang penyangga itu ada yang dipasang vertikal, ada pula yang dipasang diagonal. Konsep bangunan ini oleh para peneliti dari ITB dan UI dipercaya dapat menahan guncangan gempa. Pada dinding luar bangunan kayu terdapat delapan gambar ornamen daun. Posisinya melingkar menyerupai kelopak bunga, berwarna biru langit dan kuning. Terpasang juga ornamen kayu berbentuk tiga pasang kepala naga yang menghadap ke utara.

 


Bangunan ini disebut Omo Hada, rumah lawas milik Raja Bawotamaluo yang sekarang didiami oleh keturunannya. Di halaman depan rumah tersusun rapih beberapa benda jaman pra-sejarah seperti dolmen dan batu menhir. Beragam bentuk dan ukurannya. Di bagian dalam Omo Hada masih tersimpan satu kursi raja yang terbuat dari kayu. Pengunjung diperbolehkan mendudukinya sambil berswafoto.


Cerita legenda tentang keberanian orang Nias jaman megalitik dapat kita peroleh dari pemandu-pemandu lokal yang umumnya berusia remaja. Para pemandu lokal begitu lugas bercerita dan begitu senang mengajak pengunjung untuk berkeliling kampung. Mereka diasuh oleh salah satu organisasi yang mengajarkan bagaimana membuat serta menjual souvenir khas kampung Bawomataluo, organisasi itu bernama Gaule Ana’a.

 

Kampung Adat Hilimondregeraya


Kampung adat Hilimondregeraya berjarak sejauh 7,5 km di sebelah selatan Kota Teluk Dalam. Secara administratif masuk di Kecamatan Ono Lalu. Kampung adat yang diklaim sebagai permukiman tertua di Nias Selatan ini memiliki abanyak artefak jaman megalitikum. Di tengah kampung, pernah berdiri Omo Sebua yang dibangun tahun 1860. Omo Sebua tersebut memikat hati seorang dokter asal Denmark bernama A.G. Moller yang menikahi putri Raja Hilimondregeraya. Pada tahun 1927, dokter itu membeli dan mengangkut Omo Sabua ke negara asalnya. Potongan bangunan diboyong dengan mengajak serta beberapa orang kampung yang tahu memasangnya kembali di sana.



Tahun 2012, Tirto Utomo Foundation, sebuah lembaga non-profit yang berperan besar dalam melestarikan bangunan tradisional di Indonesia, menginisiasi pembangunan replika Omo menyerupai model dan ukuran aslinya. Replika Omo Sebua yang berdiri di Kampung Hilimondregeraya menyerupai arsitektur Omo Hada di desa Bawomataluo. Dari ukuran tiang penyangganya, ornamen dinding luar hingga hiasan kepala naga. Replika tersebut dibangun di atas lahan berukuran 8,5 x 14 meter. Letaknya tidak begitu jauh dari lokasi rumah aslinya.


Pada halaman depan lokasi Omo Sebua yang terdahulu, masih dapat dijumpai beberapa motif menhir yang vertikal dan horizontal. Menhir vertikal bermotif manusia dan menhir horizontal bermotif hewan buaya (ewali sawolo). Ada juga meja batu di salah satu sudut halaman. Sedangkan di halaman depan Omo nifolasara terdapat altar bujursangkar berukuran 15x15 meter persegi. Lantai altar dilapisi batu megalit. Kursi batu berada di sisi dalam sebelah barat altar dengan posisi menghadap ke rumah replika.



Altar biasanya digunakan untuk acara tertentu saja, seperti pertemuan adat atau musyawarah adat. Tak jauh dari sisi luar altar terdapat Hombo Batu sebagai simbol kebudayaan. Arena Lompat Batu ini tidak untuk dipertontonkan kepada pengunjung. Lompat Batu di Kampung Bawomatulao dilombakan setahun sekali dan wajib diikuti oleh pemuda Kampung Hilimondregeraya yang berusia dewasa.


Keunikan budaya jaman megalitikum di pulau Nias begitu mengagumkan. Siapapun yang berkunjung kesini pasti akan takjub dengan pengalaman yang dirasakannya, sama seperti saya. Pembelajaran yang saya peroleh selama berada di pulau Nias adalah mencintai Indonesia dapat diwujudkan dengan menjaga serta melestarikan peninggalan kebudayaan pendahulunya. Karena itu adalah identitas bangsa.