Situs Geowisata Bukit Karst di Maros, Sulawesi Selatan


KABUPATEN Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Makassar. Jarak dari Makassar ke Maros berkisar 30 kilometer. Kabupaten Maros merupakan salah satu dari tiga daerah di tiga provinsi tujuan pekerjaan saya.

Kali ini saya melakukan survei ditemani dua orang perempuan, Fatiha dan Puspita Anggraeni, masuk keluar sekolah dasar dan madrasah pada daerah tujuan penelitian.

Di Kabupaten Maros kami mengambil data salah satu madrasah. Di sana kami ditawari jalan-jalan oleh beberapa guru. Mereka menyebut tiga obyek wisata primadona di wilayahnya, yaitu Rammang-Rammang, Taman Pra-sejarah Leang, dan Bantimurung.

Kami bertiga dengan senang hati mengiyakan ajakan mereka. Kami bersepakat dengan guru-guru itu bertemu di alun-alun esok pagi. Pihak sekolah berbaik hati menyediakan mobil untuk mengantar kami.

Kawasan Bukit Karst Rammang-Rammang

Maret 2019, alun-alun Kota Maros tidak terlalu ramai pagi itu. Setelah sempat dihantam musibah banjir besar pada awal tahun, Kota ini tampak mulai menggeliat kembali. Jam analog menunjukkan pukul 08:30, saat sebuah kendaraan yang menjemput kami tiba. Di belakangnya menyusul satu mobil lagi. Mobil pertama disediakan untuk kami bertiga plus seorang supir dan mobil kedua berisi empat guru dengan anak-anak mereka. Setelah berbelanja makanan dan minuman ringan, mobil melaju kearah utara menuju Desa Salenrang, tempat di mana bukit karst Rammang-Rammang berada.

Kawasan batuan kapur yang berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah atau karst. Ada dua bukit karst terluas di dunia, pertama di Shilin Yi, Provinsi Yunnan, China dan kedua berada di Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Rammang-rammang kini menjadi primadona wisata kabupaten Maros. Berjarak sekitar 46 km dari kota Makassar dan 19 km dari kota Maros. Obyek wisata ini dikenal dengan gugusan bukit karst yang menjulang dan puluhan goa alami. Rangkaian bukit kapur nan eksotis memikat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Akses jalan menuju lokasi sudah bagus. Beraspal beton dan ruas jalan dapat dilewati oleh dua mobil yang berlawanan arah. Saat melintasinya, kita dapat melihat hamparan padi yang menguning dan ada juga yang masih terlihat hijau. Di belakang area persawahan, sisi kanan jalan, dari kejauhan tampak puluhan batu besar.

Bebatuan tersebut seakan-akan mencuat keluar dari perut bumi, berwarna hitam keabu-abuan, sangat kontras dengan hamparan hijau dan kuning tanaman padi. Panorama ini mengundang decak kagum pertama sebelum memasuki perbukitan karst Rammang-Rammang di Kampung Berua.

Kendaraan kami berjalan dengan kecepatan sedang setelah melewati simpang jalan desa Salenrang. Semakin masuk lebih ke dalam lagi, kita akan disuguhkan pemandangan puncak runcing bukit karst. Kendaraan berhenti di sebuah jembatan beton. Jembatan ini sebagai penanda batas masuk lokasi wisata.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami mendatangi pos penjaga untuk memesan perahu dan membayar tiket masuk juga biaya parkir kendaraan. Harga tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang dan biaya parkir kendaraan roda empat sebesar Rp 10.000. Ongkos parkir roda dua setengahnya.

Pos jaga adalah sebuah rumah kayu, pada dindingnya terpasang informasi tentang Geowisata Kampoeng Karst Rammang-Rammang, Peta Topografi Karst dan beberapa tulisan dalam tiga bahasa. Ada kalimat yang; menarik di dalam bangunan ini, tertulis “Rampe Golla Na Kurampeki Kaluku”, di bawah kalimat itu tertulis terjemahan bahasa indonesia, “Ceritakan diriku semanis gula akan kuingat dirimu segurih kelapa”.

 


Berperahu ke Kampung Barua

Pada papan informasi tergambar letak beberapa situs, gua, dan spot-spot menarik, termasuk juga mencantumkan letak posisi tiga dermaga. Mengetahui posisi dermaga menjadi utama karena semua situs wisata di Rammang-Rammang hanya bisa dilalui dengan menyewa perahu. Bila ingin mengunjungi Kampung Berua, Anda akan diantarkan ke dermaga tiga. Perahu yang masuk akan bersandar di dermaga, menunggu untuk mengantarkan Anda kembali pulang.

Saking banyaknya obyek yang menarik sehingga kami berembug untuk menentukan situs mana yang akan kami kunjungi. Beberapa tempat menarik yang dapat pengunjung datangi di kawasan Rammang-Rammang antara lain, Telaga Bidadari, Kampung Berua, Gua Telapak Tangan, Gua Bulu’ Barakka, Gua Pasaung, dan Taman Hutan Batu Kapur. Hasil rembuknya, kami memilih Kampung Berua. Dengan pertimbangan kalau di sana kita bisa melihat lebih dari satu situs dan beristirahat di warung warga desa setempat.

Pihak pengelola Geowisata menyediakan dua macam ukuran perahu, berdasarkan kapasitas jumlah penumpang. Semua perahu di cat dengan warna-warna cerah dan memiliki satu mesin tempel di buritan. Kami menyewa satu perahu yang berukuran agak besar agar dapat memuat tujuh orang dewasa dan dua orang anak.

Pengemudi membagi posisi duduk penumpang agar perahu seimbang dan berjalan mulus. Dengan kecepatan sedang, perahu mulai menyusuri Sungai Pute, meninggalkan gulungan kecil di belakang perahu kami. Air Sungai Pute begitu tenang dan jernih.

Pada belokan pertama mata kami disuguhkan dengan rerimbunan pohon nipah dan akar pohon bakau air payau. Di belokan selanjutnya mulai tampak dinding tebing karst yang menjulang. Pemandangan itu memaksa kami mendongak guna melihatnya. Tampak pula sebuah rumah penduduk, dibangun persis di tepi aliran sungai. Ada dermaga kecil di dekatnya.

Sebuah papan petunjuk menuliskan “Telaga Bidadari”. Perahu kami hanya melewati saja. Kemudian, perahu mulai mengurangi kecepatannya. Badan sungai mulai mengecil dan tampak di hadapan kami semacam lorong gua yang mungkin hanya bisa dilewati satu perahu saja. Semakin mendekati ke liang sana, perahu semakin berjalan pelan hingga sampai di mulut lorong gua. Perahu memasuki lorong dengan perlahan.

Masing-masing dari kami terlihat menahan nafas. Bila melihat ke bawah akan tampak bagian dasar sungai yang dangkal. Suasana di dalam lorong itu begitu dingin dan lembab. Sisi kanan dan kiri merupakan bebatuan menyerupai batu gamping. Air menetes dari atasnya. Lorong ini memiliki panjang kurang lebih 80 meter. Di bagian ujung satunya adalah dermaga tiga Kampung Berua.



Padang Ammarung

Perahu kami berhenti di dermaga ini. Satu persatu kami keluar dari perahu, memandang takjub bukit-bukit karst yang berdiri mengelilingi sebuah permukiman, bagai dinding alam. Inilah Kampung Berua. Kampung paling ujung dari Desa Salenrang. Rammang-Rammang hanyalah penamaan untuk dusunnya.

Tidak banyak rumah yang tampak. Lahan yang dimiliki sebagian besar berisi air bak tambak atau telaga yang dangkal. Rumah panggung berdiri di atasnya. Kami melangkah di atas pematang mengikuti papan petunjuk arah yang terpasang di setiap persimpangan.

Di tengah kampung ketika menoleh ke selatan kita akan melihat sebuah mulut gua yang besar tempat kelelawar tinggal. Sebelah utara kampung terdapat Gua Telapak Tangan. Kami tidak sedang menuju kepada dua tempat tersebut. Tujuan kami hanyalah Padang Ammarung.

Terdapat poster yang dilapisi mika transparan setinggi 2 meter. Di dalam poster itu tertulis deskripsi tentang Padang Ammarung. Saya mengutipnya demikian, Padang Ammarung ini merupakan sebuah padang batu dengan sejarah panjang, meninggalkan benteng-benteng geologi yang unik, susunan-susunan batu yang dilukis oleh air dengan mata air yang membelah. Dari atas padang Ammarung akan nampak lanskap Kampung Berua secara menyeluruh di bawah kaki tebing-tebing karst yang perkasa.

Nama Padang Ammarung sendiri diambil dari gemuruh air yang membelah Padang Ammarung di musim penghujan, “ammarung” berarti bunyi. Bahkan menurut cerita rakyat beberapa tahun silam gemuruh air ini sendiri menerjang dari dalam celah batu yang membentuk sungai-sungai kecil peninggalan jaman Belanda.

Setelah melewati jembatan kecil dan jalan yang sedikit mendaki, tibalah kami di Padang Ammarung. Warung-warung yang dikelola warga kampung senantiasa menyambut kedatangan kami. Kami menuju salah satu warung terdekat, memesan minuman hangat dan pisang goreng. Udara sejuk yang membekap mendorong kami untuk lekas menyeruput kopi dan menyantap pisang goreng yang tersaji.

Di sini kami beristirahat sambil duduk lesehan. Satu jam kemudian, kami bergegas berdiri karena melihat langit yang begitu cepat berubah berwarna keabuan pertanda akan turun hujan. Kami tidak mau pulang dengan pakaian basah, maka kami pun segera membayar makanan dan minuman serta pamit kepada pemilik warung. Geowisata ini memberi kami pengalaman personal menikmati monumen alam yang dibentuk oleh ruang dan waktu jutaan tahun lamanya.